Mendaftar Program Pendidikan Spesialias Dokter

Warning! Tulisan ini sangat subjektif dan ditulis dari kacamata seorang istri yang bukan dokter hehe.
Saya berharap meski sedikit bisa membantu pembaca yang memang sedang berencana mendaftar Program Pendidikan Dokter Spesialis alias PPDS.


sumber : web fk unair 

Setelah suami saya menyelesaikan program internship di Mojokerto akhir 2018, dia mulai galau tuh. What's next? Ada keinginan untuk ikut program pengabdian ke daerah-daerah seperti mengisi lowongan kosong untuk dokter umum di luar pulau Jawa, atau melamar kerja di rumah sakit sekitar Surabaya-Sidoarjo, atau langsung melanjutkan pendidikan dokter spesialis di Universitas Brawijaya (UB). Setelah tanya sana sini sampai akhirnya ketemu senior yang sudah diterima PPDS Ilmu Penyakit Dalam (akan saya singkat sebaga IPD) di UB dengan background bukan keluarga dokter, suami saya memantapkan diri untuk langsung mendaftar PPDS.  Tapi muncul lagi pertanyaan, mau ambil spesialis anak atau IPD? Sejak jaman kuliah dulu suami tertarik dengan IPD dan sudah ikut banyak seminar mengenai bidang ini. Tapi di akhir masa koass, suami dapet kesempatan jadi research assistant di bawah dokter kandungan UB untuk beberapa bulan. Kebetulan dokternya namanya sama dengan suami (terus? wkwk) dan orangnya super baik. Di akhir kontrak selesai dokternya bahkan nawarin kalau mau masuk PPDS anak di UB kontak dia aja pasti bakal dibantuin. Waktu nikahpun dokternya dateng dong jauh-jauh dari Malang huhu terharu banget. Makanya suami sempet kepincut pingin masuk Ilmu Kesehatan Anak (IKA). Tapi akhirnya suami balik lagi sih ke pilihan pertamanya yaitu IPD. Apalagi syarat masuk PPDS IPD ini relatif paling gampang alias nggak ribet dibanding divisi yang lain. Nggak perlu harus kerja dulu maupun bikin penelitian.

Setelah pulang dari umroh , suami saya langsung siap-siap untuk melengkapi berkas persyaratan PPDS UB meski pendaftarannya masih Juli karena harus hunting beberapa berkas dulu. Salah satu yang penting adalah mendapat surat rekomendasi dari rumah sakit umum daerah yang akhirnya membawa kita sampai ke Banjarnegara . Katanya sih kalau punya surat rekom dari daerah peluang untuk keterimanya lebih besar. Apalagi suami bukan "darah biru" alias nggak ada turunan keluarga dokter jadi kalau ditandingkan dengan anak dari keluarga dokter yang juga sama-sama daftar maka dia bisa kalah #katanyasihgitu. Alhamdulillah berkat bantuan pakdhe dan kepala rumah sakit Banjarnegara yang baik banget surat rekom ini berhasil didapat.

Sambil proses melengkapi berkas ini, saya kan kebetulan punya beberapa temen yang jadi dokter juga. Salah satunya sahabat saya waktu SMA yang lulusan UI, suaminya yang juga dokter baru aja keterima PPDS IPD Unair. Trus dia bilang ke saya kenapa suami nggak coba aja, kan mumpung di Surabaya juga. Saya tau sebenernya suami pingin balik ke Malang lagi tapi saya kan pinginnya di Surabaya aja ya hahaha. Kalau pindah ke Malang artinya saya yang harus adaptasi lagi. Nggak masalah sih sebenernya hehe cuma saya usaha aja iseng bilang ke suami apa nggak nyoba daftar Unair juga. Itung-itung nyoba biar tau medan toh pendaftaran lagi buka dan kalau nggak keterima pun masih bisa daftar di UB nanti. Alhamdulillah suami setuju dan berusaha melengkapi berkas secepatnya. Untuk surat rekom (meski nggak wajib dan kata temen kalau di Unair nggak seberapa ngaruh), suami nyoba minta ke Dinas Kesehatan Mojokerto tapi ternyata ditolak. Kenapa ditolak? Katanya sih karena takut suami habis studi cari kerjanya di Mojokerto padahal posisi dokter IPD disana sudah full. Jadi istilahnya mereka nggak mau kalau suami nanti "ganggu" tempat kerja mereka. Hadeu rempong banget tapi memang begitu ternyata dunia dokter di Indonesia. Kalau kamu bukan anak siapa-siapa dan nggak punya koneksi bakalan susah deh (susah lho ya bukan nggak mungkin 😁 ). Lalu suami nyoba minta surat rekom ke RS swasta tempat dia internship dulu sama ke dokter IPD di RS itu juga yang kebetulan lulusan Unair. Alhamdulillah direktur RS nya baik banget mau ngasih. Nothing to lose banget sih soalnya katanya kalau rekom dari swasta itu kurang dianggep.

Seleksi PPDS ini terdiri dari seleksi berkas, tes TPA dan Bahasa Inggris, tes tulis, dan wawancara. Pendaftaran sudah buka dari Januari 2019 hingga Maret 2019. Lalu tes-tes berikutnya dilakukan di bulan Maret-April dan pengumuman di akhir April 2019 seinget saya. Untuk detil persyaratan, jadwal, dan seleksi bisa dilihat disini ya. Poin pentingnya disini adalah lengkapi semua berkas lalu harus bisa lulus TPA dan Bahasa Inggris dulu, baru deh mikirin yang lainnya. Karena tes TPA dan Bahasa Inggris itu tes murni dari rektorat jadi nggak bisa diutak-atik hasilnya. Meski kamu anaknya siapa dengan membawa rekom yang sangat kuat tapi nggak lulus TPA sama Bahasa Inggris ya percuma aja. Katanya sih surat rekom itu baru bekerja kalau udah masuk di tes tulis sama wawancara karena yang pegang departemen masing-masing. Waktu itu suami belajar TPA sama Bahasa Inggris dengan beli buku-buku latihan soal yang dijual umum di toko buku. Terus dia juga sempet ikut "les" diajak temennya beberapa kali. Alhamdulillah untuk kedua tes ini dapat dilalui dengan cukup lancar sehingga bisa masuk ke tahap selanjutnya, yaitu tes tulis.

Kalau ditanya gimana cara suami belajar buat tes tulis sejujurnya menurut saya biasaaaa bangettt. Makanya saya kadang agak kesel (loh wkwk) kok bisa ya dia keterima haha. Kalau saya jadi dia, saya belajarnya pasti heboh banget. Mungkin karena yang Unair ini dia nggak ada target ya jadi kayak dinikmati aja gitu. Tiap hari ya buka buku sambil nyoba ngerjain soal tapi menurut saya itu belum maksimal. Tapi toh ya alhamdulillah keterima sih. πŸ˜‚ Habisnya tes tulis itu saya inget banget ekspresinya suami itu bingung. Pas saya tanya kenapa susah banget tah? Jawabannya adalah dia bingung kenapa kok terkesan gampang soalnya wkwk. Katanya dia kalau di UB soalnya itu biasanya berantai, jadi kalau pertanyaan atas salah atau nggak bisa jawab otomatis bawah-bawahnya juga pasti salah. Nah tipe soal yang dia kerjakan tadi itu sangat obvious pilihan yang salah yang mana jadi meskipun nggak tau seenggaknya bisa nebak jawaban yang bener itu apa.

Jadi singkat cerita bener aja suami lolos ke tahap wawancara. Wawancaranya ini dua kali dengan penguji yang berbeda. Kata suami pas sebelum wawancara calon peserta yang lain kebanyakan pada buka buku belajar gitu. Dan dia nggak bawa buku apapun wkwk bener-bener pasrah. Eh tapi ternyata kok pertanyaan wawancaranya "receh" alias lebih ke pertanyaan tentang kehidupan sehari-hari kayak bahas keluarga dan pekerjaan dokter. Disini kami sama-sama mbatin (tapi nggak diungkapkan) kok kayaknya bakal diterima ya soalnya denger rumor kalau pas wawancara ditanya teori yang susah-susah kemungkinan nggak lolos. Sebaliknya kalau pertanyaannya hanya untuk mengetahui keseharian dan personality itu artinya tanda-tanda bakal lolos. Hmm well tapi ya nggak mikir muluk-muluk juga sih waktu itu, wes tunggu tanggal pengumuman aja.

Hari pengumuman pun tiba dan suami saya tanya dari pagi katanya masih males liat nanti aja. Akhirnya saya dikabarin siang dan alhamdulillah dia lolos! Bener-bener di luar dugaan dan nggak sesuai dengan rencananya dia sama sekali. Yang paling seneng mungkin saya ya karena doa terkabul nggak perlu pindah ke Malang hahaha.



Lucunya di saat banyak orang memberi selamat ke suami, pesan yang masuk ke saya malah banyak yang mendoakan semoga saya diberi kesabaran menjalani hari-hari sebagai istri dari PPDS wkwk. Yaa mungkin bisa saya ceritakan di postingan yang lain hihihi.

Kesimpulannya adalah jangan takut untuk mendaftar tapi juga harus realistis dan mengukur kemampuan diri sendiri. Penuhi persyaratannya dan persiapkan ujian sebaik mungkin. Nggak usah terlalu galau/minder dengan background keluarga maupun akademis yang "biasa" saja karena rejeki sudah ada yang mengatur. πŸ˜‰



Comments

Popular posts from this blog

Part Time Job di Jepang

G30 Nagoya University

I Love My Apato!