Akhirnya, Berhasil Mendapatkan Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP!



Alhamdulillah, setelah penantian kira-kira 2,5 tahun akhirnya saya berhasil juga dapat beasiswa LPDP. Teringat waktu di Jepang dulu ada beberapa senior S2 dan S3 yang datang ke kampus dengan beasiswa LPDP ini sudah mulai ngomporin nyuruh cepetan daftar beasiswa paling hits se-Indonesia raya ini. Lha gimana bisa daftar, wong lulusnya aja waktu itu masih lama hahaha. Katanya sih makin cepet kamu daftar kesempatan dapet makin tinggi, sebelum persyaratannya tambah susah lho! Dan saya membuktikan perkataan para senpai tersebut bahwa memang sekarang makin ribet persyaratannya dan makin membludak pesertanya. Kalau ada yang ngikutin blog saya mungkin udah pada tau kalau saya daftar LPDP juga di tahun 2017 dengan tujuan  Australia karena saya dapet LoA unconditional dari University of Sydney, namun sayangnya gagal. Lalu di tahun 2018 saya break daftar sekolah maupun beasiswa apapun.

Di tahun 2019 saya memutuskan untuk mencoba LPDP lagi namun dengan cara dan tujuan yang berbeda. Tahun 2019 lalu LPDP membuka 2 batch pendaftaran, ada yang deadline bulan Mei dan batch selanjutnya deadline bulan September. Saya sengaja nggak daftar batch pertama karena memang nunggu pengumuman PPDS suami. Suami saya keterima dimana saya ngikut sekolah disitu, gitu rencananya hehe. Alhamdulillah suami keterima di PPDS Unair, jadi fix nih saya mau daftar LPDP dalam negeri batch kedua dengan tujuan Universitas Airlangga Surabaya. Untuk jurusannya, pilihan saya masih sama dengan yang dulu yaitu manajemen kesehatan dengan pertimbangan saya nggak mau ngelab lagi dan ilmu ini bisa nunjang profesi suami juga jadi lebih bermanfaat lah buat orang banyak nanti di masa depan wkwk aamiin. Di Unair sendiri prodi ini masuk di FKM dengan jurusannya bernama Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Prodinya ada 4 disitu dan saya memilih prodi Manajemen Pelayanan Kesehatan. Anyway, yang bikin beda sama tahun 2017 waktu daftar LPDP selain tujuan universitasnya juga ada tidaknya LoA. Kalau dulu saya kan ngejar dapet LoA baru daftar LPDP, nah tahun lalu saya daftar LPDP tanpa LoA. Pertimbangannya saya nggak mau rugi heboh daftar sana sini tapi nggak ada beasiswanya wkwk. Jadinya kayak tahun 2017 itu deh harus kecewa gagal kuliah di Aussie. Jadi, yang penting dapet beasiswa LPDP ini dulu baru daftar universitasnya.

Saya nggak akan terlalu detil membahas terkait seleksi berkas, karena sudah banyak yang bahas hal ini di internet. Tipsnya cuma satu, lengkapi semua dokumen dan usahakan nilai yang tercantum di semua report kayak transkrip nilai, tes bahasa, dsb itu yang terbaik. Setelah lolos seleksi berkas, akan ada Seleksi Berbasis Komputer (SBK) yang terdiri dari tes TPA, tes kepribadian, dan essay on the spot (EOTS). SBK ini dipegang langsung oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan diperkenalkan  sebagai tes LPDP sejak tahun 2018 kalau nggak salah. Jadi kalau mau belajar bisa pakai referensi tes CPNS ya, terutama materi verbal, numerik, dan logika. Kalau (EOTS)  memang tes khas LPDP ya dan referensi materinya bisa dicari juga di google banyak banget kok.

Kantor Regional II BKN Waru, lokasi tes SBK (sumber :website BKN)

Menurut saya tes TPA ini untung-untungan, dapet soal yang kitanya familiar atau enggak. Karena saya ngerasa meski udah nyicil belajar dari jauh-jauh hari rasanya masih ada materi yang belum tercover. Mungkin waktu jaman sekolah dulu yang dipikir belajar aja ya jadi fokus. Lha kemarin kan belajar itu kayak nyambi ya hehe. Setelah kita submit jawaban biasanya nilai TPA kita langsung keluar dan itu bisa jadi disruption yang bikin kita nggak fokus, terutama kalau kita tau nilai kita rendah. Saya sendiri agak kecewa karena nilai saya nggak setinggi yang saya harapkan, bahkan cenderung mepet untuk beasiswa LPDP reguler dalam negeri. Padahal saya merasa bisa mengerjakan soal TPA yang diberikan (thanks to Allah nggak ada soal tentang bangun ruang hehe, hanya verbal, numerik, dan logika). Tapi saya sadar saya harus segera move on dan fokus mengerjakan soal kepribadian. Oh iya nilai minimum itu hanya prediksi dari peserta ya karena LPDP sendiri nggak pernah memberi info resmi. Untuk beasiswa reguler dalam negeri minim skornya katanya sih 180 dari 300 .  Untuk soal tes kepribadian, berdasar pengalaman dulu kayaknya jangan terlalu jadi diri sendiri ya hehe. Jadi lebih ke kepribadian yang diharapkan oleh LPDP. Karena yang pegang tes BKN, jadi kalau bisa pilih yang menunjukkan kepribadian yang baik sebagai ASN gitu lah.Banyakin ngerjain soal latihan CPNS aja pokoknya biar biasa waktu ngerjain. Nah buat EOTS, saya dapat tema tentang one data one policy. Tema ini udah ada di kisi-kisi yang disebar di grup-grup jadi saya nggak kaget, cuma saya nggak tau secara mendalam kayak gimana. Menurut saya, akan sangat membantu jika kita familiar dengan topik yang diberikan. Tapi kalau misalkan enggak familiar pun nggak masalah karena menulis EOTS itu bisa dilogikakan. Jadi modelnya itu kita bakal baca teks berita dulu lalu di bawahnya ada perintah untuk menulis sesuai dengan perintah disitu. Bisa ditanya solusi, pendapat setuju atau enggak, dsb.  Overall, tips umum untuk ketiga jenis tes saat SBK ini adalah jangan mikir terlalu lama dan bertele-tele karena waktu yang diberikan terbatas (FYI tes TPA itu 60 soal dalam 90 menit, tes kepribadian itu 60 soal dalam 30 menit, dan EOTS 30 menit). 

Karena waktu tahun 2017 saya gagal di tahap kedua, saya sengaja nggak mau liat pengumuman meski di grup LPDP Surabaya udah pada rame. Eh jam 5 sore waktu liat HP ada SMS masuk isinya petunjuk untuk wawancara LPDP. Saya kaget dong, berarti saya keterima ya? Akhirnya saya buka akun saya dan alhamdulillah saya lolos ke tahap wawancara! 😭 Seneng pastinya tapi saya paling takut sama wawancara meski udah berkali-kali mengalaminya. Yang bisa saya lakukan cuma terus berlatih dengan daftar pertanyaan yang mungkin ditanyakan serta berdoa agar diberi kelancaran sepanjang wawancara. Oh iya untuk tahun 2019 LPDP menghilangkan LGD dan menggantinya dengan dua macam wawancara, yaitu wawancara substansi biasa dan wawancara kebangsaan (ini hanya istilah dari para pelamar LPDP karena kalau dari LPDP hanya merujuk pada wawancara I & II). Nah, apa tuh wawancara kebangsaan? Kalau di wawancara substansi pertanyaannya ya umum kayak pertanyaan umum wawancara beasiswa ya.Sedangkan di wawancara kebangsaan ini kita akan ditanya mengenai pendapat kita mengenai isu nasional dan juga wawasan kita terhadap ke-Indonesiaan. Istilahnya untuk mengukur kadar nasionalisme kita gitu. Wah tambah susah aja ini.πŸ˜‚


GKN I Surabaya, lokasi tes wawancara (sumber : konsultan pabean)

Alhamdulillah saya dapet jadwal verifikasi dokumen, wawancara I, dan wawancara II di hari yang sama. Kalau dapet jadwal verifikasi dan wawancara di hari yang berbeda, mau nggak mau memang harus bolak-balik ke lokasi wawancara. Saya dapet jadwal verdok jam 09.30, wawancara I jam 15.00, dan wawancara II jam 17.00. Bener-bener seharian hehe semoga penguji dan sayanya juga masih semangat wkwk. Ada kejadian yang cukup membuat jantung copot waktu verdok. Berkas saya katanya ada yang kurang! huhuu super kaget dan bingung apa coba yang kurang.....udah saya cek berkali-kali waktu sebelum berangkat padahal. Ternyata di bagian hasil skor TOEFL ITP itu selain sertifikatnya, harus menyerahkan 2 kertas terpisah yang berisi penjelasan kemampuan sama bukti ikut TOEFL (seinget saya ya, pokoknya di amplop hasil TOEFL yang diberikan ke saya ada 3 kertas isinya). Saya pikir yang dibawa kan hanya yang di upload yaitu yang ada skornya, dan yang 2 kertas itu saya pikir nggak penting. Untungnya staf yang di bagian verifikasi memaklumi dan nggak nyuruh saya buat pulang ambil berkas yang nggak ada. Ya Allah alhamdulillaah,kemudahan nggak terduga yang diberikan ke saya. Saya nggak tau kenapa mungkin karena saya lulusan luar negeri jadi pertimbangannya saya mampu berbahasa Inggris. Waktu verdok selesai saya iseng nanya ke pelamar lain yang duduk di sebelah saya tentang kelengkapan bukti kemampuan Bahasa Inggris. Dia bilang katanya di email terbaru itu disebutkan kalau harus bawa printilan kertas-kertas lain selain sertifikatnya. Waduh saya teringat di email terakhir itu kayaknya saya nggak baca lengkap karena saya pikir isinya sama dengan yang di web. Jadi pelajaran nih nggak boleh terlalu pede walau untuk hal yang sangat remeh.

Saya kaget banget waktu jam 12.30 nama saya dipanggil dan terpampang di layar yang ada di ruang tunggu. Kok maju banget ya?! Setengah shock dan setengah ngantuk akhirnya saya bergegas ke ruang wawancara. Ternyata waktu disana saya disuruh antri nunggu 1 jam lebh. Jadi baru diwawancara jam 2 lebih lalu keluar jam setengah 3 lebih (wawancara sekitar 20 menit). Waktu pertama kali masuk ruangan saya lihat ternyata dalam 1 ruangan yang nggak terlalu besar sudah dibagi kelompok-kelompok gitu, tanpa ada penyekat. Menurut saya sih kurang kondusif ya suasananya karena sangat ramai terdengar suara dari kelompok yang lainnya. Anyway, alhamdulillah banget waktu baru dipersilakan duduk suasana sudah cari karena ketiga penguji sudah ketawa dan excited duluan. Katanya akhirnya dari sekian peserta ada yang beda juga, yaitu saya. Semuanya dari dalam negeri mau ke luar negeri eh ini dari luar kok maunya ke dalam hahaha. Saya bersyukur sekali dapet penguji yang menurut saya ramah banget ya jadi kayak ngobrol. Pertanyaannya pun nggak aneh-aneh dan nggak dikejar-kejar gitu. Saya ditanya kenapa kok mau lanjut disini? Kenapa milih jurusan ini? Rencana tesis tentang apa? Gimana cara mengejar materi yang tidak linier? Gimana penerapan ilmu ini? Selain itu lebih ke pertanyaan personal seperti tokoh idola siapa dan kenapa, minta ijin dan doanya ke suami apa ke ortu, dan yang lainnya saya nggak terlalu inget hehee. Intinya saya sangat lega karena sesi wawancara I ini berjalan mulus. Karena yang saya takutkan dari awal adalah saya tidak bisa menjelaskan dengan baik kenapa saya ingin pindah jurusan dari sains terapan ke bidang manajemen. Eh tapi ternyata penjelasan saya cukup bisa diterima oleh interviewer hehe.

Kira-kira jam 4 sore lebih saya dipanggil untuk wawancara II. Untuk wawancara kebangsaan ini pengujinya cuma satu dan waktunya lebih lama sih menurut pengalaman saya. Sebelum ke inti pertanyaan, pengujinya nanya-nanya pengalaman saya waktu kuliah di Jepang dulu. Pertanyaan yang diajukan ke saya antara lain apa yang bikin inget indonesia waktu tinggal di LN, setuju/tidak terkait pelarangan cadar untuk ASN, opini tentang LGBT dan khilafah, definisi pancasila, revisi UUD 1945, dan toleransi. Tips pribadi dari saya, kalau memang tidak setuju dengan pertanyaan atau pernyataan yang diberikan nggak apa-apa menyatakan pendapat kita yang sebenarnya. Asal tetep sopan, tenang, dan dengan alasan yang jelas. Tidak perlu sampai mendebat. Intinya tetep jadi diri sendiri tapi tetep di tengah hehe.



Singkat cerita, 2 minggu kemudian pengumuman  LPDP keluar meski telat 2 hari dari yang dijadwalkan. Alhamdulillah puji syukur kepada Allah saya dinyatakan lolos tes wawancara! Dengan ini saya menjadi calon awardee LPDP, masih calon ya karena belum PK dan tanda tangan kontrak hehe. Update tentang PK akan saya posting nanti kalau sudah terlewati. Sekarang waktunya cari LoA, bismillah! ^^

Comments

Popular posts from this blog

Part Time Job di Jepang

G30 Nagoya University

I Love My Apato!