to be a scientist

Dulu aku kira aku mau jadi peneliti khususnya di bidang bioteknologi. Waktu itu omku yang dulu kuliah di Jepang yang nyaranin buat belajar biotek karena ilmu ini lagi berkembang banget. Setelah baca sana sini hmm kayaknya memang keren dan menarik. Waktu lulus SMA juga mikirnya aku cocok jadi peneliti gitu dan kayaknya nggak masalah mau belajar sampe S3 *kamu mikir apa sih dlu cha wkwk
Akhirnya keturutan juga masuk jurusan yang aku mau dan di Jepang ini dunia penelitian itu beneran punya posisi yang penting. Aku nggak tau di universitas lain kayak gimana tapi aku yakin hampir semua universitas di Jepang punya tujuan untuk mencetak peneliti. Mulai dari tahun keempat S1 kamu bakal  masuk laboratorium tertentu yang bidangnya bener-bener sangat-sangat spesifik dan sekarang jamannya neliti hal yang super kecil alias molekular bahkan sampe tingkatan nano. Untuk orang Jepang pada umumnya mereka bisa stuck di lab ini sampe nanti mereka nyelesein S2 atau S3. Dosenku yang orang asing bilang dunia akademik Jepang emang kuat di teknik penelitian dibanding teorinya (jam yang kita habisin di lab jauh-jauh lebih banyak daripada kelas soalnya kelasnya dikit banget) karena itu kalau mau belajar teori mending ke negara Barat aja jangan ke Jepang.
Semakin ke belakang aku semakin sadar mungkin jadi peneliti bukan profesi yang cocok sama aku. Mungkin karena aku bukan di zona nyamanku, hal-hal yang nggak aku tau tentang diriku muncul (?) dan akhirnya ngerasa ini bukan tempatku. Mungkin dulu harusnya aku masuk IPS kali ya sesuai saran BK,ngerasa banget otakku nggak nyampe disini >.< Tapi gimana belajar natural science itu lebih menarik menurutku, hmm mungkin kalau belajarnya secara general masih nggak papa ya tapi kalau udah menjurus banget kayak gini kebanyakan aku nggak ngerti dosennya ngomong apa. Bidang yang dipelajari di biosains utamanya itu genetika, biologi sel, sama biokimia dan tiga matkul ini diulang-ulang terus sampe bosen banget dengernya*meski tetep nggak paham haha
Sebenernya ngerasa aneh kenapa belajar kayak gini tapi dimasukinnya di School of Agricultural Sciences padahal aku cuma belajar dikiiitt banget tentang pertanian. Memang di fakultas pertanian ini dibagi jadi 3 jurusan lagi yaitu applied biosciences, bioenvironmental sciences, dan bioresources sciences. Di applied bioscience ini karena aplikasi jadinya tema penelitian di masing-masing lab beda banget dan cakupannya luas. Mulai dari padi, protein, drug delivery system (DDS), polimer, organik kimia, tanah, bioluminescence, ion channel, dsb. Nggak nyambung sama sekali antara satu sama yang lain. Untuk daftar labnya bisa dilihat disini.  
Terus sejak tahun ketiga di semester kedua kemarin aku resmi masuk di lab Nutritional Biochemistry. Meski sejak setaun sebelumnya kita udah di training sebelum masuk lab sebenernya, dunia peneliti yang sesungguhnya baru kerasa waktu aku udah masuk di satu lab ini. Yang dibahas tiap hari itu seputar data penelitian, deadline paper, presentasi seminar, dsb. Kebanyakan eksperimen yang dilakuin hasilnya nggak sesuai harapan makanya harus diulang berkali-kali dan aku nggak tau kapan bakal dapet data yang sesuai yang dimauin sensei. Kadang frustasi tapi mungkin ya inilah dunia penelitian. Mungkin karena sejak awal waktu disuruh milih lab aku asal milih aja karena nggak minat sama bidang tertentu (mungkin aku lagi di fase dimana aku eneg sama semua yang aku lakuin di kampus) asal bisa memenuhi persyaratan kelulusan :p Oh iya baru denger juga istilah impact factor disini, hmm segitu pentingnya buat peneliti.


Di lab ini model organismenya berupa tikus (mice sama rats) yang udah transgenik, artinya ada gen yang udah diubah-ubah. Aku masuk di grup yang pake tikus transgenik yang salah satu enzim di dalam tisu lemaknya udah dihapus, terus kita kasi makanan yang beda-beda contohnya ada yang dikasi makanan dengan komposisi nutrisi seimbang, ada yang kandungan lemaknya tinggi, kandungan protein tinggi, dll. Setelah itu kita ambil organ-organ dan darah dari tikus itu untuk dianalisis lebih lanjut. Apa yang mau dianalisis? Labku fokusnya ke branched-chain amino acid atau BCCA jadi kita pingin tau efek hilangnya enzim itu di dalam metabolisme dengan kondisi diet yang berbeda itu gimana. Jangka panjangnya, pemberian BCAA ke manusia nanti diharapkan bisa jadi terapi untuk menyembuhkan beberapa penyakit metabolik kayak diabetes melitus, obesitas, dsb. Teknik yang dipake di lab macem-macem kayak Polymerase Chain Reaction (PCR), Real Time PCR, Western Blot, amino acid analysis, RNA extraction, enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), protein concentration determination, BCA assay, sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) dan masih banyak lagi.
Seneng nggak di lab? Hmm gimana ya kalau suka penelitian mungkin seneng ya kerja di lab Jepang. Fasilitasnya bener-bener memadai. Mesin canggih dan mahal kayak NMR dan gene sequencing machine semua orang bisa pake. Tantangan pasti ada dan banyak yang kadang bisa bikin stress. Tantangan pertama itu mungkin bahasa karena tetep hampir semua mesin dan prosedur penelitian adanya dalam Bahasa Jepang. Terus orang asing nggak mesti bisa temenan sama orang Jepang yang di lab makanya bisa kesepian parah dan merasa terasingkan *halah curhat wkwk* terus yang sampe sekarang bikin aku gagal paham  itu budaya kerja Jepang yang sukanya ngelembur. Kenapa harus ngelembur kalau kita bisa kerja efisien?


Banyaklah cerita tentang dunia penelitian disini tapi buat sekarang aku cukupkan sekian dulu yaa

mungkin aku pilih nomer 11 untuk sekarang..






Comments

Popular posts from this blog

Part Time Job di Jepang

G30 Nagoya University

I Love My Apato!