Jepang dan Mobil

google

Kalo dibandingin lalu lintasnya kota-kota besar di Jepang sama Indonesia itu emang beda banget. Nagoya itu tempat asalnya Toyota dan beberapa perusahaan otomotif besar lain di Jepang. Nggak heran jumlah mobil di Aichi (nama provinsinya) katanya sih yang terbanyak di Jepang dan lalu lintasnya itu yang terburuk di Jepang makanya sensei-sensei di kampus sering ngingetin harus hati-hati kalo jalan di Nagoya. Padahal terburuknya sini itu menurutku masih jauh jauh jauh lebih baik daripada lalu lintas di Indonesia.  Disini tetep ada macet, tapi nggak parah mungkin karena semua pengendaranya juga tetep rapi dan taat. Mobil-mobilnya nggak ngeluarin asap dan suara makanya meski di jalan ada banyak mobil kadang heran juga kok bisa ya tetep kerasa sepi. Mobil-mobilnya sebenernya bentuknya nggak seberapa bagus, kadang menurutku agak jadul gitu nggak sebagus mobil-mobil Jepang yang ada di Indonesia.
Setelah mengamati dan mendengar dari senpai-senpai yang punya mobil, kira-kira ada 6 alasan kenapa mobil (mungkin motor juga) di Jepang nggak sebanyak di Indonesia. Semuanya pendapatku aja lho ya, nggak ada dasar ilmiah khusus. 

  1. Lampu merah banyak. Kalo diperhatiin disini jarak antar satu lampu merah sama lampu merah lain itu termasuk deket. Dikit-dikit berhenti. Kalo orang Indonesia nggak sabaran kali ya ngadepin beginian :p mendokusai!
  2. Dapet SIM susah dan mahal. Kalo nggak salah bayarnya sekitar 30juta rupiah dan harus les dulu sebelum ambil tes tulis dan praktek yang bayar juga. Kalo punya SIM internasional katanya bisa disetarain tapi bayar juga. Katanya sih tesnya lumayan susah dan yang pasti disini kan nggak bisa nembak. 
  3. Pajak mahal. Tiap tahun ada pajak mobil yang harus dibayar dan besarnya pajak ini lebih besar dari harga mobilnya sendiri. Kalo nggak salah harga mobil biasa disini cuma puluhan juta, tapi yang bikin mahal ya pajaknya itu. Terus tiap tahun ada pengecekan mobil makanya disini kayaknya nggak pernah ngeliat asap hitam keluar dari kendaraan karena mutunya selalu dijaga. Ngeceknya di bengkel-bengkel gitu dan kalo lolos nanti dikasi tanda kalo mobil ini masih layak jalan.
  4. Parkir susah dan mahal. Disini nggak bisa parkir sembarangan  dan nggak tiap tempat ada parkirannya. Kalo pun ada itu juga pasti bayar. Di mall-mall juga sama bayarnya mahal. Tarif parkirnya rata-rata dihitung per 15 menit/30menit/1 jam/1 hari. Oh iya kalo punya mobil disini nggak semua apato nyediain lahan parkir, kecuali punya rumah sendiri ya. Harga sewa parkirannya (diluar harga sewa apato) bisa jutaan per bulan. Kurang tau pastinya berapa tergantung pemilik apato atau tergantung pemilik lahan parkir. 
  5. Mobilnya dikirim ke Indonesia semua! Hahaha. Ya ini alasan sebenernya bikin kesel juga karena berarti yang bikin macet Indonesia itu Jepang. Pernah denger juga kalo macet di Indonesia mungkin nggak akan bisa ilang karena ini udah perjanjian tingkat atas antar pemerintah Jepang dan Indonesia. Coba kalo mobil produksi Jepang nggak dikirim ke Indonesia,sapa yang mau beli mobil-mobil itu? Gimana perekonomian Jepang bisa tumbuh tanpa kita orang-orang Indonesia yang beli mobil mereka? Harusnya orang Jepang berterima kasih sama kita huh *mulai emosi* Jadi maksudku itu aku mau bilang kalo nggak semua kelebihan negara maju itu patut kita banggain karena kadang kita nggak sadar kalo kita-kita ini malah yang jadi korbannya.
Anyway ngomong-ngomong tentang parkiran, parkiran di Jepang itu keren karena udah otomatis dan sangat efisien. Kadang nggak mesti parkiran mobil yang otomatis, parkiran sepeda juga ada yang otomatis. Parkirannya kayak ditumpuk-tumpuk jadi nggak makan tempat. Kadang pernah liat ada mobil yang turun dari atas atau mobil yang keluar dari bawah tanah. Biasanya ngeliat yang begituan di apato-apato mewah atau bangunan-bangunan besar.

Parkiran mobil punya apato besar deket apatoku
Lahan parkir per 30 menit kena 300 yen (dari google)

Comments

Popular posts from this blog

Part Time Job di Jepang

G30 Nagoya University

I Love My Apato!