Tokyo Love Story

Taken somewhere in Shinjuku
Kalau kamu suka nonton dorama Jepang pasti tau atau seenggaknya pernah denger judul postinganku di atas. Tapi postingan kali ini nggak ada hubungannya sama dorama itu dan nggak ada hubungannya sama kisah cinta-cintaan di Tokyo hahaha maafkan ya...cuma iseng nyomot judul itu aja :p

Jepang sangat identik dengan Tokyo. Makanya kalau ke Jepang belum ke Tokyo belum afdol rasanya karena menurutku sendiri di Tokyo itu aku baru ngerasa kalau bener-bener di Jepang. Mungkin karena informasi yang aku dapet selama ini lewat buku,tv, atau media cetak lebih banyak mendeskripsiin Tokyo. Padahal kehidupan di luar Tokyo itu juga ada dan pastinya beda. Anyway kalau di Tokyo kita bakal jarang nemu stasiun sepi di jam berapa pun. Kalau waktunya rush hour gitu mungkin lebih parah ya ramenya. Aku harus tahan berdiri di kereta hampir sejam dengan posisi nggak bisa gerak bebas. Terus nggak tau kenapa sering banget hampir nabrak orang waktu jalan, khususnya waktu di stasiun. Mungkin belum bisa nyocokin ritme jalannya orang-orang Tokyo yang cepet atau mungkin saking banyaknya orang. Tapi enaknya di Tokyo itu transportasinya yang terjamin dan murah. Jarak waktu antarsatu kereta dengan kereta yang lain termasuk cepet jadi nggak perlu terlalu khawatir kalau ketinggalan kereta karena masih ada kereta berikutnya.

Aku sendiri sudah 4 kali ke Tokyo, tapi baru sekali yang sempet jalan-jalan meski cuma dua hari. Dua kalinya cuma transit di Tokyo Station, sisa satunya datang ke seminar di daerah Tokyo Bay. Makanya di liburan musim semi kali ini aku pingin ke Tokyo lagi buat menjelajahi tempat-tempat yang belum aku kunjungi sebelumnya. Liburan kemarini ini aku naik Willer Express Bus dari Nagoya-Tokyo selama kurang lebih 6 jam dengan harga 8,300 yen untuk pulang pergi. Kenapa milih Willer Express soalnya lebih murah daripada JR Bus dan kita bisa pesen tiketnya online pakai Bahasa Inggris :p

Waktu pertama kali ke Tokyo tahun 2012, ini beberapa tempat yang sempat aku kunjungi.

Perempatan Shibuya yang selalu ramai

Takeshita dori, Harajuku

AKB48 no Cafe di Akihabara

Tokyo Sky Tree

Di sekitar Tokyo Imperial Palace

Menjelajahi Tokyo itu nggak ada habisnya, tergantung apa yang mau kita cari disana. Pasti adaa aja yang bisa kita temuin. Aku pribadi nggak ada interest khusus jadi ya lebih sering googling tempat-tempat apa yang emang umum dikunjungin orang hahaha. Jadi, inilah beberapa hot spot yang aku kunjungi selama 4 hari di bulan Maret 2014 ini.

Karena bisnya turun di Shinjuku Station, destinasi pertamaku adalah Tokyo Metropolitan Government Office. Shinjuku itu daerah perkantoran makanya banyak gedung-gedung tinggi disini. Sebenernya aku ikut saran orang-orang Indonesia aja sih, katanya kalau mau nikmatin pemandangan Tokyo dari atas tapi gratis nggak perlu ke Tokyo Tower atau Tokyo Sky Tree, cukup ke TMGO ini aja.

Tokyo dilihat dari Tokyo Metropolitan
Government Office's Observation Deck
Nggak sengaja nemu info tentang Korean Town ini gara-gara ada berita Yesung buka toko kacamatanya disini wkwk. Korean Town ini deket dari Shinjuku, bisa turun di Shin Okubo Station dan di sepanjang jalan di luar udah masuk Korean Town. Banyak banget toko yang jual pernak-pernik k-pop, kosmetiknya Korea, dan pastinya makanan Korea.
Korean Town 

Kalau kamu suka belanja barang-barang bermerk mungkin bakal suka kalau jalan-jalan di Ginza soalnya banyak toko-toko mahal yang bertingkat-tingkay. Tapi aku pribadi nggak terlalu suka makanya waktu jalan kesini jadi bingung mau pergi kemana.
Salah satu sudut di Ginza
Dari Tokyo kita bisa pergi ngeliat Gunung Guji di daerah Fujigoko (Fuji Five Lakes) atau di daerah Hakone dengan bis atau kereta selama dua jam. Kemarin aku pergi naik bis dan turun di Kawaguchiko Station yang masuk wilayah Fujigoko. Disana selain bisa ngeliat Gunung Fuji juga ada banyak resort hotel, onsen (pemandian air panas), kuil, dan museum. Sayang banget hari itu berkabut dan hujan jadi Gunung Fujinya nggak keliatan :( Padahal udah jauh-jauh ya dibelain oergi, tapi ya mungkin belum rejeki. Sebenernya kalau cuaca lagi cerah banget kita bisa ngeliat Gunung Fuji dari TMGO tapi sayangnya waktu itu juga nggak bisa keliatan. 
Kawaguchiko Station
Lake Kawaguchiko


Pesenan khusus nih dateng ke Juventus Lounge yang emang lagi buka sampai akhir April ini aja. Nggak tau apa-apa jadi cuma moto-moto wkwk.
Juventus Lounge
Nggak tahu kenapa Tokyo Tower terkesan lebih mewah daripada Tokyo Sky Tree, mungkin karena warna lampunya (?) Di dalam tower ini juga ada akuarium seperti di Tokyo Sky Tree tapi nggak ada mallnya dan kesannya agak tua waktu masuk ke dalem.
Tokyo Tower
Tsukiji Market katanya salah satu pasar ikan terbesar di dunia. Kalau di berita-berita itu sering liat mereka lelang ikan tuna dengan harga yang super tinggi. Tapi kalau mau liat lelang ini harus pesen dulu dan datengnya pagi-bagi banget. Kemarin aku kesana udah siang tapi ternyata pasarnya masih rame sama orang-orang yang lagi makan disana karena memang pasar ini nggak sekedar jualan ikan dan seafood lainnya, tapi kita juga bisa makan seafood yang masih segar di tempat.
Tsukiji Market
Odaiba mungkin salah satu tempat favoritku di Tokyo. Pemandangan disini bagus banget dan areanya luas mencakup berbagai macam mall,taman,dan wisata air. Lain kali mungkin aku mau nyoba kesini waktu malem soalnya katanya Rainbow Bridge keliatan bagus waktu lagi bercahaya. Selain itu disini kita bisa foto-foto di depan imitasinya Patung Liberty dan Gundam raksasa di depan Diver City Tokyo Plaza. Atraksi menarik lainnya adalah Madame Tussaud Museum di Decks Tokyo Beach dimana kita bisa ketemu langsung sama orang-orang yang dianggap penting dan terkenak di dunia.

Patung Liberty dengan latar belakang Rainbow Bridge
Raksasa Gundam di Odaiba
Foto bareng Presiden Obama di Madame Tussaud
Ueno Park ini salah satu area taman yang luas di Tokyo. Salah satu ikonnya adalah kebun binatangnya karena cuma disini kita bisa nemuin giant panda di Jepang. Kemarin waktu kesana cuacanya lagi enak banget buat jalan-jalan dan ternyata pohon sakuranya udah pada bermekaran. Nggak heran udah banyak yang mulai hanamian.
Ueno Park
Sebenernya dua tahun lalu waktu ke Tokyo aku udah pernah ke Harajuku. Tapi karena belum nyobain makan crepes nya yang katanya jadi makanan wajib kalo kesini akhirnya iseng deh mampir lagi. Kita bisa nemuin berbagai macam toko yang jualan crepess di sepanjang Takeshita Dori, tinggal pilih rasa dan harga yang cocok.  
Antrian panjang cuma buat beli crepes di Harajuku
Nggak ada alasan khusus buat ke KBRI, hanya sekedar iseng pingin tau kayak gimana. Waktu nyampe di pintu gerbang bingung kok sepi banget, baru sadar kalau hari itu Sabtu makanya tutup --a
Gedung KBRI di Tokyo 
Ini nih Tokyo University yang katanya universitas paling bergengsi di Jepang. Kemarin waktu ke sana nggak terlalu rame sih mungkin karena hari libur. Kaget juga waktu masuk bangunannya tua banget, gaya Eropa gitu. Beda sih sama kampusku yang mungkin tergolong masih baru.
Todai-Tokyo University
Ada cerita menarik lain selain ngunjungi tempat-tempat di atas. Selama hampir 3 tahun aku di Jepang baru kemarin di Shinjuku itu aku dimintain uang sama dua orang dalam sehari. Pertama bapak-bapak Jepang yang dengan baik hati ngasi tau gimana jalur kereta buat pulang tapi ujung-ujungnya minta pinjem 100 yen buat ongkos dia naik kereta gara-gara uangnya nggak cukup. Untung aja cuma pinjem 100 yen bukan 1000 yen gitu. Sejak awal si bapaknya mungkin udah tau aku agak bingung terus nawarin bantuan. Tapi baru kali inilah ada orang Jepang yang minta uang. Terus yang kedua mbak-mbak yang tiba-tiba nyapa pakai bahasa Melayu. Ngakunya relawan dari organisasi peduli anak gitu dan sekarang lagi ngumpulin dana bantuan. Waktu aku liat kartu identitasnya namanya bukan kayak nama orang Indonesia atau Malaysia. Akhirnya dia bilang kalau dari Filipina dan bisa sedikit-sedikit bahasa Melayu.Hmm ya sudahlah bener atau nggak niat bantuin orang juga nggak ada salahnya. Terus baru tau kalau jalur kereta yang aku naiki tiap hari dari rumahnya temen di Tokyo sampai ke Shinjuku itu disebut suicide line saking banyaknya orang Jepang yang bunuh diri di jalur itu. Nama jalur keretanya JR Chuo Line dan berdasar hasil pencarian google ada dua alasan kenapa jalur ini jadi jalur favorit untuk bunuh diri. Yang pertama adalah karena jalur kereta ini lurus jadi kecepatannya stabil sehingga kemungkinan buat meninggal besar. Alasan kedua adalah uang pengganti yang harus dibayar kalau bunuh diri di line ini termasuk yang paling murah. Sebagai informasi, bunuh diri di Jepang dikenai denda yang harus dibayar oleh keluarga kalau memilih lokasi yang merugikan banyak orang. Kereta pastinya sarana transportasi umum buat banyak orang kan, makanya kalau bunuh diri di jalur kereta otomatis kereta berhenti dan mengacaukan jadwal kereta seluruhnya. Emang aneh-aneh aja ini orang Jepang, naudzubillah deh kalau stres sampai mau bunuh diri.   

Sekian dulu ceritanya yaa kalau ada kesempatan jalan-jalan lagi nanti aku bikin postingan baru :D

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Part Time Job di Jepang

G30 Nagoya University

I Love My Apato!